Berdasarkan surat edaran tersebut, kegiatan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan mulai Selasa, 27 Oktober 2026. Kebijakan ini berlaku bagi satuan pendidikan PAUD, termasuk SPS, TPA, KB, dan TK, serta SD dan SMP negeri maupun swasta di Kabupaten Batang Hari.
Keputusan tersebut diambil setelah Pemerintah Kabupaten Batang Hari mempertimbangkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dirilis Dinas Lingkungan Hidup melalui UPTD Laboratorium Lingkungan. Berdasarkan hasil pemantauan pada Senin, 26 Oktober 2026, kualitas udara di Kabupaten Batang Hari menunjukkan kategori sedang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah untuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar ke sekolah setelah sebelumnya pembelajaran dilaksanakan secara daring sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap.
Dalam surat edaran yang ditujukan kepada kepala satuan pendidikan dan orang tua atau wali murid itu, Bupati Batang Hari Muhammad Fadhil Arief meminta seluruh pihak terkait memperhatikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Kepala satuan pendidikan juga diminta memastikan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolah. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan peserta didik, guru, tenaga kependidikan, serta seluruh warga sekolah selama kondisi udara masih berpotensi mengalami perubahan.
Selain itu, satuan pendidikan diharapkan terus mengikuti perkembangan kualitas udara melalui informasi Indeks Standar Pencemaran Udara yang dikeluarkan oleh instansi berwenang. Pemantauan tersebut diperlukan agar sekolah dapat mengambil langkah antisipatif apabila terjadi penurunan kualitas udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Batang Hari menegaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran tatap muka harus disertai dengan perhatian terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan warga sekolah. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Pengakhiran pembelajaran daring ini menjadi kabar baik bagi peserta didik, orang tua, dan tenaga pendidik yang selama masa kabut asap harus menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan sistem jarak jauh. Kembalinya siswa ke sekolah diharapkan dapat mendukung efektivitas proses pembelajaran, meningkatkan interaksi antara guru dan peserta didik, serta memulihkan aktivitas pendidikan secara langsung.
Meski demikian, seluruh satuan pendidikan diingatkan agar tidak mengabaikan perkembangan kondisi udara. Apabila terjadi perubahan kualitas udara, sekolah perlu memperhatikan informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait sebagai dasar untuk menentukan langkah yang diperlukan.
Dengan diberlakukannya kembali pembelajaran tatap muka mulai 27 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Batang Hari berharap kegiatan pendidikan dapat berjalan normal, tertib, dan aman. Sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi, sekaligus menjaga kesehatan mereka di tengah kondisi lingkungan yang dinamis. (DA/MAN)
]]>Melalui tema “Berpegang Teguh pada Akar Tradisi, Mengembangkan Potensi untuk Meraih Prestasi,” MAS Darusy Syafiiyah menegaskan komitmennya untuk menjaga nilai-nilai keislaman, akhlakul karimah, kedisiplinan, serta budaya pesantren sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing.
Menurut Sugeng Riyadi, tradisi bukanlah penghalang kemajuan, melainkan akar yang memberikan kekuatan dan arah bagi generasi muda untuk melangkah ke masa depan. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu harus tetap dijaga, sekaligus dikembangkan melalui pendidikan yang inovatif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Madrasah harus mampu menjaga keseimbangan antara mempertahankan nilai-nilai tradisi dan mengembangkan potensi peserta didik. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak kehilangan jati diri, tetap menjunjung tinggi akhlak dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan, kreativitas, serta keberanian untuk meraih prestasi,” demikian semangat yang diusung dalam kepemimpinan Kepala MAS Darusy Syafiiyah.
Komitmen tersebut menjadi dorongan bagi seluruh warga madrasah, baik guru, tenaga kependidikan, maupun peserta didik, untuk terus meningkatkan kualitas diri dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang religius, disiplin, dan berprestasi.
Pengembangan potensi peserta didik juga perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam bidang keagamaan, seni, olahraga, keterampilan, kepemimpinan, dan kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengenali bakatnya, mengasah kemampuannya, dan menunjukkan prestasi terbaik sesuai dengan potensinya.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, madrasah memiliki tanggung jawab besar untuk mempersiapkan generasi yang mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual. Tradisi keislaman dan budaya pesantren menjadi fondasi karakter, sementara ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi bekal untuk menghadapi masa depan.
Bagi MAS Darusy Syafiiyah, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya prestasi yang diraih, tetapi juga dari terbentuknya pribadi yang jujur, santun, mandiri, bertanggung jawab, serta bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui semangat “Berpegang Teguh pada Akar Tradisi, Mengembangkan Potensi untuk Meraih Prestasi,” Sugeng Riyadi, S.Sos., M.Pd., mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk terus bergerak maju, memperkuat kolaborasi, menjaga identitas keislaman, dan menjadikan setiap potensi sebagai peluang untuk menciptakan prestasi.
Berakar kuat pada tradisi, tumbuh melalui pendidikan, dan melangkah menuju masa depan yang gemilang. Inilah semangat MAS Darusy Syafiiyah dalam menyiapkan generasi yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan negara.
]]>Lintasjambi.co.id.Jambi.- Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026, Merupakan Pilar Masa Depan Bangsa, bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan peran pesantren dalam menjawab tantangan zaman, terutama ketika bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, santri dituntut untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman sekaligus mengembangkan kemampuan intelektual, keterampilan digital, dan kreativitas agar mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Hari Santri tahun 2026 Dengan Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas 2045: Harapan dan Tantangan Santri di Era Kecerdasan Buatan (AI) di Provinsi Jambi” memiliki makna yang sangat penting. Tema ini mengingatkan kita bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas manusia, kekuatan moral, karakter, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan.
Santri merupakan bagian penting dari sumber daya manusia Indonesia. Mereka tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang mengajarkan ilmu agama, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap guru. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membangun bangsa yang maju dan berkarakter.
Di Provinsi Jambi, pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang religius, berpendidikan, dan berbudaya. Pesantren tidak hanya menjadi tempat mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan berbagai disiplin ilmu keislaman, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter generasi muda. Keberadaan pesantren di berbagai wilayah Jambi memberikan peluang besar untuk melahirkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kesiapan menghadapi tantangan kehidupan modern.
Akan tetapi, perubahan zaman menuntut pesantren untuk terus beradaptasi. Santri masa kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca kitab kuning dan memahami ilmu agama, tetapi juga perlu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi informasi, bahasa, literasi digital, serta keterampilan berpikir kritis. Kemampuan tersebut penting agar santri dapat berperan aktif dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, hingga pengembangan teknologi.
Indonesia Emas 2045 dan Peran Strategis Santri, merupakan cita-cita besar untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, adil, makmur, dan mampu bersaing di tingkat global ketika memasuki satu abad kemerdekaan. Untuk mencapai cita-cita tersebut, pembangunan manusia menjadi salah satu faktor penentu. Bangsa yang maju membutuhkan generasi yang cerdas, produktif, sehat, berkarakter, serta mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.
Santri memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari generasi emas tersebut. Mereka dapat berkontribusi sebagai pendidik, ulama, pengusaha, ilmuwan, teknolog, pemimpin masyarakat, birokrat, dan inovator yang berlandaskan nilai-nilai moral. Dengan bekal pendidikan pesantren, santri mempunyai kesempatan untuk mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecakapan digital.
Namun, harapan tersebut tidak akan terwujud secara otomatis. Diperlukan pembaruan sistem pendidikan pesantren, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, penyediaan sarana pembelajaran yang memadai, serta perluasan akses terhadap teknologi. Pemerintah, pengelola pesantren, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus bekerja sama agar santri memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pembangunan sumber daya manusia tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Lebih dari itu, generasi muda harus memiliki karakter yang kuat, kemampuan memecahkan masalah, daya cipta, semangat kolaborasi, serta kepedulian terhadap masyarakat. Teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaan, tetapi kebijaksanaan dalam menentukan tujuan dan mempertimbangkan dampak keputusan tetap membutuhkan tanggung jawab manusia.
Dalam konteks ini, pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan yang menggabungkan tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan zaman. Prinsip menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik dapat menjadi semangat untuk melakukan inovasi pendidikan tanpa kehilangan identitas pesantren.
Era Kecerdasan Buatan: Peluang Baru bagi Santri, Karena kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer menjalankan tugas tertentu yang biasanya memerlukan kemampuan manusia, seperti mengolah bahasa, mengenali pola, menganalisis data, dan menghasilkan berbagai bentuk konten. Perkembangan AI telah membuka peluang baru dalam dunia pendidikan, pekerjaan, penelitian, dan pelayanan masyarakat.
Bagi santri, AI dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, menyusun rangkuman bacaan, menerjemahkan teks, membuat latihan soal, mengembangkan ide penelitian, dan mempelajari bahasa asing. Dengan pendampingan yang tepat, santri dapat memanfaatkan AI untuk memperkaya proses belajar, bukan sekadar mempercepat penyelesaian tugas.
Sebagai contoh, santri dapat menggunakan teknologi AI untuk membantu memahami istilah bahasa Arab, membandingkan penjelasan umum tentang konsep keislaman, atau menyusun kerangka tulisan ilmiah. Akan tetapi, hasil yang berkaitan dengan agama harus diperiksa melalui Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab yang tepercaya, serta bimbingan ustaz atau kiai yang kompeten. AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan konteks keilmuan yang sedang dipelajari.
AI juga membuka peluang bagi santri untuk mengembangkan usaha berbasis digital. Mereka dapat mempelajari pemasaran produk pesantren, membuat katalog usaha, merancang materi promosi, mengelola administrasi, dan memperluas jangkauan pemasaran produk lokal. Keterampilan tersebut dapat membantu mengembangkan kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya.
Di Provinsi Jambi, peluang pemanfaatan AI dapat diarahkan pada pengembangan potensi daerah. Santri dapat berkontribusi dalam promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah, pengenalan budaya Melayu Jambi, dokumentasi tradisi lokal, serta pengembangan konten edukasi tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat. Teknologi juga dapat digunakan untuk membantu memperkenalkan warisan budaya daerah kepada generasi muda dengan cara yang lebih menarik.
Pesantren di wilayah perkotaan maupun pedesaan dapat menjadikan literasi AI sebagai bagian dari pengembangan kompetensi santri. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan fasilitas, kesiapan guru, serta kemampuan peserta didik. Tidak semua pesantren harus langsung menerapkan teknologi yang mahal. Langkah awal dapat dimulai melalui pengenalan literasi digital, pemanfaatan perangkat yang tersedia, pelatihan sederhana, dan pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata.
Tantangan Digitalisasi Pesantren di Provinsi Jambi, terdapat berbagai tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Tantangan pertama adalah kesenjangan akses teknologi. Ketersediaan jaringan internet, perangkat komputer, listrik yang stabil, dan fasilitas pembelajaran digital belum tentu sama di setiap wilayah. Pesantren yang berada jauh dari pusat perkotaan dapat menghadapi kendala lebih besar dalam mengakses sumber belajar digital.
Kesenjangan tersebut tidak boleh membuat santri di daerah tertinggal kehilangan kesempatan untuk berkembang. Pemerintah daerah, pemerintah pusat, penyedia layanan telekomunikasi, dan pihak swasta perlu memperkuat pemerataan infrastruktur digital. Program bantuan perangkat, perluasan jaringan internet, pelatihan guru, dan penyediaan sumber belajar yang dapat diakses tanpa koneksi internet terus-menerus dapat menjadi langkah yang relevan.
Tantangan kedua adalah kesiapan sumber daya manusia. Tidak semua guru dan pengelola pesantren memiliki pengalaman menggunakan AI dalam pembelajaran. Sebagian mungkin masih membutuhkan pendampingan untuk memahami fungsi teknologi, memilih aplikasi yang sesuai, memeriksa kebenaran informasi, dan merancang kegiatan belajar yang efektif.
Karena itu, pelatihan literasi digital harus diberikan secara berkelanjutan. Pelatihan sebaiknya tidak hanya memperkenalkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga membahas etika, keamanan data, hak cipta, verifikasi informasi, dan batasan teknologi. Guru pesantren perlu didukung agar dapat menjadi pembimbing yang mampu mengarahkan santri menggunakan AI secara cerdas dan bertanggung jawab.
Tantangan ketiga adalah risiko ketergantungan terhadap teknologi. Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat sebagian pelajar kehilangan kebiasaan membaca mendalam, berdiskusi, menghafal, menulis dengan pemikiran sendiri, dan melakukan analisis secara mandiri. Apabila AI selalu digunakan untuk menyelesaikan tugas, proses pembentukan kemampuan intelektual justru dapat melemah.
Pesantren perlu memastikan bahwa teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Santri tetap harus membaca sumber asli, berdiskusi dengan guru, menyusun argumen sendiri, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. Tugas pembelajaran dapat dirancang agar mendorong santri melakukan observasi, wawancara, penelitian sederhana, dan refleksi yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyalin jawaban dari AI.
Tantangan keempat berkaitan dengan kebenaran informasi. AI dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu akurat. Dalam persoalan agama, sejarah, kesehatan, hukum, dan kebijakan publik, kesalahan informasi dapat menimbulkan dampak serius. Santri perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan bertanya kepada ahli yang berwenang.
Tantangan kelima adalah persoalan etika dan keamanan digital. Penggunaan AI harus memperhatikan privasi, perlindungan data pribadi, penghormatan terhadap karya orang lain, serta larangan menyebarkan fitnah dan informasi palsu. Santri tidak boleh mengunggah data pribadi teman, dokumen internal pesantren, atau informasi sensitif ke layanan digital tanpa memahami risiko dan ketentuan penggunaannya.
Di samping itu, penggunaan AI untuk membuat gambar, suara, atau video yang menyerupai orang lain dapat menimbulkan persoalan apabila dilakukan tanpa izin atau digunakan untuk menipu. Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pendidikan teknologi. Kecakapan digital tanpa tanggung jawab moral berpotensi melahirkan masalah baru.
Menjaga Tradisi Keilmuan di Tengah Kemajuan Teknologi, Salah satu kekuatan pesantren adalah tradisi keilmuan yang menempatkan guru sebagai pembimbing, ilmu sebagai amanah, dan akhlak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Tradisi ini harus tetap dijaga ketika pesantren mulai memanfaatkan AI.
Hubungan antara santri dan kiai tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh sistem digital. AI mungkin dapat memberikan penjelasan, menyusun rangkuman, atau membantu pencarian referensi, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan keteladanan, kebijaksanaan, pembinaan karakter, dan tanggung jawab seorang pendidik.
Pendidikan pesantren juga tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu menjawab soal. Pesantren berusaha membentuk manusia yang memahami tanggung jawabnya kepada Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan. Karena itu, penguasaan teknologi harus menjadi bagian dari perjalanan menuju kematangan ilmu dan akhlak.
Prinsip amanah, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan dapat menjadi pedoman etis dalam penggunaan AI. Santri harus jujur ketika menggunakan bantuan teknologi dalam tugas, tidak mengakui karya AI sepenuhnya sebagai karya pribadi, dan tetap bertanggung jawab atas isi yang dipublikasikan.
Nilai tabayun atau memeriksa kebenaran informasi juga sangat relevan di era digital. Ketika menerima berita melalui media sosial, santri hendaknya tidak terburu-buru menyebarkannya. Mereka perlu memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan bukti pendukung. Sikap tersebut penting untuk mencegah penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konflik sosial.
Dengan demikian, pesantren memiliki peluang menjadi pusat pendidikan yang tidak hanya melahirkan generasi melek teknologi, tetapi juga generasi yang memahami batas etis pemanfaatannya. Santri dapat menjadi teladan dalam menunjukkan bahwa kemajuan digital harus berjalan bersama kejujuran, kesantunan, dan kepedulian sosial.
Strategi Dalam Mempersiapkan Santri Jambi Menuju 2045, Adalah Untuk mewujudkan peran strategis santri dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, diperlukan langkah nyata dan berkelanjutan. Pertama, pemerintah perlu memperkuat kebijakan pemerataan akses teknologi bagi pesantren. Dukungan tersebut dapat berbentuk penyediaan perangkat, peningkatan kualitas internet, pengembangan perpustakaan digital, dan bantuan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap lembaga.
Kedua, pesantren perlu mengembangkan kurikulum yang menghubungkan ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan kecakapan digital. Penguatan teknologi tidak harus mengurangi porsi pendidikan agama. Sebaliknya, literasi AI dapat ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas kemampuan santri dalam meneliti, berkomunikasi, berkarya, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Ketiga, pelatihan guru dan pengasuh pesantren harus menjadi prioritas. Pendidik yang memahami teknologi dapat membantu santri mengidentifikasi manfaat dan risikonya. Mereka juga dapat menyusun aturan penggunaan AI yang jelas, termasuk ketentuan tentang tugas mandiri, pencantuman bantuan teknologi, pemeriksaan sumber, dan perlindungan data.
Keempat, pesantren perlu membangun kerja sama dengan perguruan tinggi, madrasah, sekolah, komunitas teknologi, pemerintah daerah, dan dunia usaha. Kerja sama ini dapat diwujudkan melalui pelatihan, pendampingan proyek digital, kompetisi inovasi, penelitian sederhana, serta pengembangan usaha santri. Kolaborasi semacam itu dapat memperluas pengalaman belajar sekaligus membuka jalan bagi santri untuk memasuki berbagai bidang profesi.
Kelima, pengembangan keterampilan harus disesuaikan dengan potensi lokal Jambi. Santri dapat mempelajari pemasaran digital untuk produk kerajinan dan kuliner daerah, membuat konten edukasi mengenai adat Melayu Jambi, mendokumentasikan tradisi lisan, serta mengembangkan kampanye pelestarian lingkungan. Mereka juga dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu promosi pariwisata budaya dengan tetap menghormati nilai dan masyarakat setempat.
Keenam, pesantren perlu membangun budaya membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi. Kemampuan tersebut merupakan fondasi penting untuk menggunakan AI secara kritis. Santri yang memiliki pengetahuan dasar yang kuat akan lebih mampu membedakan informasi yang benar dan salah daripada mereka yang hanya bergantung pada jawaban instan.
Ketujuh, penguatan karakter harus tetap menjadi prioritas. Disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, kerja keras, dan kepedulian sosial merupakan nilai yang harus tercermin dalam perilaku santri, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Teknologi yang semakin maju harus diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri dan mempertimbangkan dampak tindakan terhadap orang lain.
Kedelapan, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap pemanfaatan teknologi di pesantren. Evaluasi tersebut dapat melihat peningkatan keterampilan santri, kualitas pembelajaran, keamanan digital, serta manfaat kegiatan bagi masyarakat. Dengan evaluasi yang baik, penggunaan AI tidak berhenti sebagai tren, tetapi menjadi bagian dari peningkatan mutu pendidikan.
Santri sebagai Penggerak Perubahan di Daerah, Provinsi Jambi membutuhkan generasi muda yang mampu memahami persoalan daerah sekaligus mencari solusi inovatif. Tantangan pendidikan, pengangguran, pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk santri.
Santri dapat menjadi penggerak literasi digital di lingkungan keluarga dan masyarakat. Mereka dapat membantu masyarakat memahami cara mencari informasi yang benar, menggunakan layanan digital dengan aman, dan memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif. Dengan bekal akhlak dan kepedulian sosial, santri dapat membantu memastikan bahwa kemajuan teknologi memberi manfaat bagi kelompok masyarakat yang lebih luas.
Di bidang ekonomi, santri dapat mengembangkan kewirausahaan berbasis pesantren. Produk makanan, kerajinan, pakaian muslim, dan berbagai hasil usaha lokal dapat dipasarkan dengan bantuan teknologi digital. AI dapat membantu menyusun deskripsi produk, membuat ide promosi, dan menganalisis kebutuhan pelanggan. Meskipun demikian, kualitas produk, kejujuran dalam pemasaran, dan pelayanan yang baik tetap menjadi faktor utama keberhasilan usaha.
Di bidang budaya, santri dapat berperan dalam mendokumentasikan tradisi, bahasa, cerita rakyat, dan kearifan lokal Jambi. Dokumentasi digital dapat menjadi sarana pewarisan pengetahuan kepada generasi muda. Penggunaan AI untuk kegiatan ini harus tetap melibatkan masyarakat pemilik tradisi agar informasi yang disampaikan akurat, menghormati konteks budaya, dan tidak menghilangkan makna aslinya.
Di bidang lingkungan, santri dapat mengembangkan kegiatan edukasi tentang kebersihan, pengelolaan sampah, pelestarian hutan, dan kepedulian terhadap sungai. Teknologi dapat membantu menyebarkan informasi dan mendukung pengumpulan data sederhana, sedangkan tindakan nyata di lapangan tetap menjadi inti perubahan.
Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa santri tidak harus menunggu menjadi tokoh besar untuk menguatkan negeri. Perubahan dapat dimulai dari ruang kelas, asrama, masjid, perpustakaan, halaman pesantren, dan lingkungan tempat tinggal. Ketika pengetahuan dipadukan dengan tindakan, santri dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Provinsi Jambi memiliki potensi besar dalam pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan pesantren. Potensi tersebut tersebar di seluruh wilayah, mulai dari Kabupaten Kerinci, Merangin, Sarolangun, Batang Hari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Bungo, Tebo, hingga Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh.
Berdasarkan data yang tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 9 Tahun 2022, terdapat 376 pondok pesantren di Provinsi Jambi. Persebarannya meliputi Kabupaten Kerinci sebanyak 10 pesantren, Kabupaten Merangin 70 pesantren, Kabupaten Sarolangun 46 pesantren, Kabupaten Batang Hari 28 pesantren, Kabupaten Muaro Jambi 59 pesantren, Kabupaten Tanjung Jabung Barat 24 pesantren, Kabupaten Tanjung Jabung Timur 18 pesantren, Kabupaten Bungo 50 pesantren, Kabupaten Tebo 45 pesantren, Kota Jambi 25 pesantren, dan Kota Sungai Penuh satu pesantren.
Data tersebut menggambarkan bahwa pesantren merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan dan pembangunan masyarakat di Provinsi Jambi. Kabupaten Merangin tercatat memiliki jumlah pesantren terbanyak dalam data tersebut, disusul Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Sarolangun. Sementara itu, jumlah yang lebih sedikit di wilayah lain tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi perhatian terhadap pemerataan kualitas pendidikan pesantren.
Angka tersebut juga memperlihatkan bahwa pembangunan pesantren tidak cukup hanya berorientasi pada pertambahan jumlah lembaga. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap pesantren memperoleh kesempatan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat kompetensi pendidik, menyediakan fasilitas yang layak, dan mempersiapkan santri menghadapi perubahan sosial serta perkembangan teknologi.
Dalam menghadapi era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), seluruh pesantren di 11 kabupaten/kota tersebut perlu memperoleh kesempatan yang adil untuk mengembangkan literasi digital. Santri di Kota Jambi maupun santri yang belajar di wilayah pedesaan harus sama-sama memiliki peluang untuk memahami teknologi, mengakses sumber pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan mempelajari etika penggunaan AI.
Pemerintah Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten/kota, Kantor Wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi, dan pihak swasta perlu membangun program penguatan kapasitas pesantren yang berkelanjutan. Program tersebut dapat mencakup pelatihan penggunaan AI bagi guru dan santri, penyediaan perangkat pembelajaran digital, perluasan akses internet, pengembangan perpustakaan digital, serta pendampingan kewirausahaan berbasis teknologi.
Kabupaten Batang Hari, misalnya, dapat mengembangkan program literasi digital pesantren yang melibatkan santri dalam pembuatan konten edukasi, promosi produk lokal, dokumentasi budaya Melayu Jambi, dan kegiatan sosial berbasis teknologi. Kabupaten Muaro Jambi, Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun, Kerinci, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur juga memiliki peluang untuk mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi masyarakat setempat. Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh dapat memperkuat kolaborasi antara pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas teknologi untuk memperluas kesempatan belajar santri.
Yang terpenting, program tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Harus ada pendampingan, evaluasi, dan keberlanjutan agar pemanfaatan teknologi benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan dan membuka kesempatan baru bagi santri. Penggunaan AI juga harus tetap mengedepankan kejujuran akademik, perlindungan data pribadi, verifikasi informasi, serta penghormatan terhadap guru dan tradisi keilmuan pesantren.
Sebaran pesantren di 11 kabupaten/kota merupakan modal penting untuk membangun gerakan bersama. Jika setiap pesantren memiliki visi untuk meningkatkan mutu pendidikan, setiap santri didorong menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta setiap pemerintah daerah memberikan dukungan sesuai kewenangannya, Provinsi Jambi akan memiliki fondasi sumber daya manusia yang lebih kuat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Oleh karena itu, Hari Santri harus menjadi momentum untuk mengubah potensi menjadi aksi nyata. Pesantren tidak hanya diharapkan melahirkan generasi yang saleh secara pribadi, tetapi juga generasi yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, menjaga lingkungan, melestarikan budaya, dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Sebagai Penutup: Santri Berakhlak, Cakap Digital, dan Berdaya Saing
Hari Santri harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memajukan pendidikan pesantren. Santri bukan hanya penjaga tradisi, melainkan juga calon pemimpin masa depan yang memiliki tanggung jawab untuk membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan beradab.
Menghadapi Indonesia Emas 2045, santri di Provinsi Jambi perlu mempersiapkan diri melalui penguatan ilmu agama, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan digital, kemampuan berpikir kritis, dan semangat kewirausahaan. Mereka harus mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan jati diri, mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akhlak, serta membangun inovasi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan.
Pemerintah, pengelola pesantren, pendidik, orang tua, perguruan tinggi, dan masyarakat harus memberikan dukungan yang nyata. Pemerataan infrastruktur digital, peningkatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum, serta perlindungan terhadap keamanan data merupakan bagian penting dari upaya tersebut. Pesantren juga harus diberi ruang untuk berinovasi sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing.
Kita tidak boleh membiarkan santri tertinggal dalam perubahan teknologi. Namun, kita juga tidak boleh membiarkan teknologi menggeser nilai-nilai luhur yang menjadi kekuatan pesantren. Keseimbangan antara ilmu, iman, akhlak, dan teknologi harus menjadi fondasi pendidikan santri pada masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga dari seberapa besar kemajuan itu meningkatkan kesejahteraan, memperluas keadilan, memperkuat persatuan, dan menjaga martabat manusia.
Santri Jambi harus berani bermimpi besar, belajar tanpa henti, berinovasi dengan bijaksana, dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Mereka harus membuktikan bahwa tradisi pesantren dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi dan bahwa kecerdasan digital dapat tumbuh bersama kedalaman spiritual.
Dari pesantren, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menentukan arah penggunaannya. Dari Jambi, kita berharap tumbuh santri yang mampu menjaga warisan budaya, mengembangkan potensi daerah, dan mengambil bagian dalam pembangunan nasional.
Santri menguatkan negeri bukan hanya dengan menjaga warisan masa lalu, tetapi juga dengan menyiapkan masa depan. Santri menguasai teknologi tanpa diperbudak teknologi, mencintai tradisi tanpa menolak inovasi, dan meraih kemajuan tanpa kehilangan akhlak.
Dengan semangat Hari Santri, mari kita teguhkan tekad untuk menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, kreatif, dan berdaya saing. Semoga santri di Provinsi Jambi menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045, sehingga kemajuan teknologi benar-benar menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selamat Hari Santri Nasional. Santri kuat, pesantren hebat, Jambi bermartabat, Indonesia semakin maju menuju Indonesia Emas 2045.
]]>Rapat dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Batang Hari, Rahmad Hasrofi, S.E., didampingi Wakil Ketua II, dr. H. Muhammad Firdaus, M.Ars. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Batang Hari, Mula P. Rambe, yang hadir mewakili Bupati Batang Hari, bersama segenap anggota DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Pembahasan berlangsung tertib dan konstruktif dengan fokus pada penyelarasan prioritas pembangunan daerah dan kemampuan keuangan daerah. Forum ini menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan anggaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan serta aspirasi masyarakat Kabupaten Batang Hari.
Dalam pembahasan tersebut, setiap program dan kegiatan diharapkan direncanakan secara cermat dengan mempertimbangkan skala prioritas, efektivitas, efisiensi, serta manfaatnya bagi masyarakat. Pengelolaan anggaran juga perlu mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas agar penggunaan keuangan daerah dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kehadiran Sekda Mula P. Rambe mewakili Bupati Batang Hari mencerminkan keterlibatan pemerintah daerah dalam proses pembahasan anggaran bersama DPRD. Sinergi antara pihak eksekutif dan legislatif diperlukan untuk menyelaraskan program pembangunan dengan kapasitas fiskal daerah.
Melalui pembahasan RAPBD Tahun Anggaran 2027 ini, diharapkan anggaran yang disusun dapat mendukung pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan perekonomian masyarakat, serta pemerataan pembangunan di wilayah Kabupaten Batang Hari.
DPRD dan pemerintah daerah diharapkan terus menjaga koordinasi dan komunikasi selama proses pembahasan hingga penetapan APBD, sehingga anggaran yang dihasilkan dapat digunakan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (DA)
]]>Aksi sosial penuh kepedulian tersebut bertempat di titik keramaian Simpang Tiga Pal V, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari. sekira pukul 16.00 WIB, pada Senin (12/10/2026).
Kegiatan dipimpin langsung oleh Kapolsek Muara Tembesi Iptu Sugeng, S.H., M.H., didampingi Kanit Binmas Bripka Tanzil, S.E., M.H., bersama pembina Pramuka Putra Kak Abi dan pembina Pramuka Putri Kak Alda, serta puluhan anggota Pramuka Penegak SMA Negeri 2 Batang Hari yang dengan semangat membagikan masker kepada pengendara roda dua, roda empat, pejalan kaki, hingga pedagang di sekitar lokasi.
Terlihat personel Polsek dan adik-adik Pramuka dengan ramah menghentikan pengendara, memberikan masker, dan membantu memakaikannya, sembari memberikan imbauan humanis untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kapolres Batang Hari AKBP Doni Aryanto, S.H., S.I.K., M.M melalui Kapolsek Muara Tembesi Iptu Sugeng mengatakan, kegiatan ini merupakan arahan langsung dari pimpinan untuk hadir di tengah masyarakat tidak hanya sebagai penjaga kamtibmas, tetapi juga sebagai pelindung kesehatan masyarakat.
“Ini adalah wujud nyata Polri Peduli. Di tengah kabut asap, kesehatan masyarakat adalah prioritas. Kami bersama adik-adik Pramuka ingin mengedukasi bahwa masker adalah pelindung sederhana yang sangat berarti. Ini juga bentuk sinergitas positif antara Polri dengan generasi muda dalam menumbuhkan jiwa sosial dan empati,” tegas Iptu Sugeng.
Sementara itu, pembina Pramuka mengaku bangga bisa berkolaborasi dengan Polsek Muara Tembesi. Menurutnya, kegiatan ini menjadi pembelajaran karakter bagi anggota Pramuka untuk peduli terhadap lingkungan dan masyarakat.
Antusiasme warga pun terlihat tinggi. Banyak warga yang mengucapkan terima kasih atas kepedulian Polsek Muara Tembesi.
“Terima kasih Pak Polisi dan adik-adik Pramuka, maskernya sangat membantu. Udara lagi tidak enak, jadi ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar salah satu warga pengendara.
Kegiatan pembagian masker gratis ini berakhir sekitar pukul 17.30 WIB dengan situasi aman, tertib, lancar dan kondusif.
Melalui kegiatan ini, Polres Batang Hari menegaskan komitmennya bahwa Polri Hadir Bukan Hanya Untuk Menjaga Keamanan, Tetapi Juga Untuk Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat Sepenuh Hati. Bersama generasi muda, kepedulian kecil hari ini diharapkan membawa manfaat besar bagi kesehatan bersama. (DA)
]]>Keberhasilan ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MAS Darusy Syafiiyah. Prestasi tersebut merupakan buah dari perjuangan, kerja keras, ketekunan, dan semangat Kelpin Kurnia dalam mengikuti kompetisi akademik yang mempertemukan siswa-siswi madrasah di tingkat provinsi.
Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa siswa madrasah memiliki potensi besar untuk berkompetisi dan mengukir prestasi di bidang ilmu pengetahuan. Melalui ajang OMI, para siswa mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akademik, memperluas pengalaman, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi persaingan.
Kepala MAS Darusy Syafiiyah menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas capaian yang diraih Kelpin Kurnia. Menurutnya, keberhasilan meraih juara di tingkat provinsi merupakan pencapaian yang patut disyukuri, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan pada masa mendatang.
Kepala madrasah juga menegaskan bahwa meskipun Kelpin Kurnia belum berhasil melanjutkan perjuangannya ke tingkat nasional, prestasi Juara III ini bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal berharga untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi.
“Madrasah sangat bangga dengan perjuangan Kelpin Kurnia. Meraih Juara III di tingkat provinsi bukanlah hal yang mudah. Walaupun belum berhasil melangkah ke tingkat nasional, tetaplah semangat, terus belajar, dan jangan pernah menyerah. Jadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi pada kesempatan berikutnya,” ungkap Kepala Madrasah.
Lebih lanjut, prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa MAS Darusy Syafiiyah agar terus mengembangkan potensi diri, berani mengikuti kompetisi, dan membangun semangat berprestasi. Madrasah berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kemampuan siswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
Keberhasilan Kelpin Kurnia juga menjadi pengingat bahwa setiap proses perjuangan memiliki nilai yang berharga. Prestasi bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang keberanian untuk mencoba, kedisiplinan dalam berlatih, serta kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.
Keluarga besar MAS Darusy Syafiiyah mengucapkan selamat dan sukses kepada Kelpin Kurnia atas raihan Juara III Biologi Terintegrasi pada OMI Tahun 2026 tingkat Provinsi Jambi. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal untuk meraih keberhasilan yang lebih besar dan mengharumkan nama madrasah pada ajang-ajang berikutnya. (CS)
]]>Usulan tersebut berkaitan dengan dorongan agar guru senior tidak diperlakukan sama dengan peserta baru dalam proses seleksi. Masa pengabdian, rekam jejak, kinerja, serta pengalaman mengajar dinilai dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penataan status kepegawaian guru.
DPR dan pemerintah memang sedang membahas penataan status guru PPPK. Wakil Ketua Komisi X sebelumnya mendorong agar rencana alih status guru PPPK juga mempertimbangkan afirmasi dan masa pengabdian guru.
Di sisi lain, skema yang sudah disampaikan secara lebih jelas adalah pengangkatan PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu tanpa tes. Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyebut sekitar 230 ribu guru PPPK paruh waktu akan diarahkan menjadi penuh waktu pada 2027 dengan pembiayaan melalui APBN.
Untuk guru PPPK penuh waktu yang ingin beralih menjadi PNS, mekanisme yang disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza masih melalui tes kompetensi. Artinya, kabar “guru PPPK usia di atas 35 tahun pasti diangkat menjadi PNS tanpa tes” belum dapat disebut sebagai kebijakan yang berlaku Saat ini yang masih menjadi pembahasan adalah kemungkinan afirmasi, penghargaan terhadap masa pengabdian, serta mekanisme alih status PPPK menjadi PNS.
Guru PPPK tetap perlu menunggu regulasi resmi pemerintah mengenai mekanisme, persyaratan, dan bentuk seleksi atau afirmasi yang nantinya diberlakukan. (DA)
]]>Kunjungan tersebut dalam rangka memantau secara langsung pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan sebagai langkah darurat menyikapi dampak kabut asap di wilayah Kabupaten Batang Hari.
Kedatangan Sekda dan Asisten I disambut langsung oleh Kepala SMPN 21 Batang Hari beserta jajaran majelis guru. Dalam kunjungan tersebut, Sekda meninjau pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan melalui sistem daring maupun penugasan terstruktur dari rumah.
Penerapan PJJ dilakukan untuk memastikan para siswa tetap memperoleh hak pendidikan secara optimal, meskipun proses pembelajaran sementara dilaksanakan dari rumah. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi langkah preventif dalam menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik serta tenaga kependidikan dari dampak buruk paparan kabut asap.
Sekda Batang Hari menyampaikan bahwa penerapan PJJ darurat merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Batang Hari untuk melindungi peserta didik dan tenaga kependidikan dari risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), akibat kondisi kualitas udara yang memburuk.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga memberikan apresiasi kepada pihak SMPN 21 Batang Hari yang telah merespons kondisi tersebut dengan cepat serta menyiapkan berbagai kebutuhan dan metode pembelajaran agar proses pendidikan tetap berjalan.
Pemerintah Kabupaten Batang Hari berharap melalui penerapan PJJ secara terukur dan efektif, kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan baik tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah.
]]>Lintasjambi.co.id.Batang Hari.- Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk kembali melihat batik bukan sekadar pakaian yang dikenakan pada hari tertentu, melainkan sebagai bagian dari identitas, kebudayaan, kreativitas, dan karakter bangsa Indonesia.
Batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu. Dari berbagai daerah, lahir beragam motif, corak, warna, teknik, dan filosofi yang menggambarkan kekayaan budaya Nusantara. Setiap motif memiliki cerita dan nilai yang tidak selalu dapat ditemukan pada kain biasa. Karena itu, batik sesungguhnya bukan hanya karya seni dalam bentuk kain, tetapi juga sebuah warisan pengetahuan dan nilai kehidupan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Bagi saya sebagai seorang guru, membicarakan batik berarti membicarakan pendidikan karakter. Sebab, di balik proses pembuatan batik terdapat banyak nilai yang dapat dipelajari oleh generasi muda. Membatik membutuhkan ketelitian, kesabaran, ketekunan, kreativitas, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap hasil karya. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.
Batik Bukan Sekadar Pakaian. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, batik terkadang hanya dipandang sebagai pakaian formal yang digunakan pada kegiatan tertentu. Padahal, makna batik jauh lebih luas daripada itu.
Batik merupakan hasil kreativitas manusia yang lahir dari proses panjang. Seorang pembatik harus memahami bahan, mengenal alat, membuat pola, mengaplikasikan malam, memberikan warna, hingga melakukan proses akhir agar menghasilkan kain yang berkualitas. Setiap tahapan membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Dari proses tersebut, kita dapat mengambil sebuah pelajaran sederhana: sesuatu yang bernilai tidak selalu dapat diperoleh secara instan.
Perkembangan teknologi digital membuat banyak hal dapat diperoleh dengan cepat. Informasi tersedia hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon pintar. Namun, pendidikan karakter mengajarkan bahwa keberhasilan tetap membutuhkan proses, kerja keras, disiplin, dan ketekunan.
Batik mengajarkan bahwa keindahan membutuhkan proses. Karakter manusia pun demikian. Karakter yang baik tidak terbentuk dalam satu hari. Ia dibangun melalui kebiasaan, keteladanan, kedisiplinan, pengalaman, dan proses pendidikan yang berkelanjutan.
Sekolah sebagai Ruang Pelestarian Budaya
Sekolah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya bangsa. Sekolah bukan hanya tempat peserta didik belajar matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, atau teknologi. Sekolah juga menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
Di SMPN Satap Johor Baru, semangat pelestarian budaya dapat menjadi bagian dari proses pendidikan. Peserta didik dapat diperkenalkan dengan batik melalui pembelajaran Prakarya, kegiatan seni dan budaya, projek, pameran karya, maupun kegiatan sekolah lainnya.
Ketika siswa hanya diperintahkan untuk memakai batik, mungkin mereka hanya memahami batik sebagai pakaian. Namun, ketika mereka diajak mengenal proses pembuatannya, memahami filosofi motif, mencoba menggambar motif sederhana, atau bahkan belajar menggunakan alat membatik, pengalaman tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam.
Mereka akan memahami bahwa kain yang dikenakan memiliki sejarah dan proses panjang. Ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan ketekunan untuk menghasilkan sebuah karya.
Dari sinilah pendidikan budaya dapat berkembang menjadi pendidikan karakter.
Batik Mengajarkan Kesabaran
Salah satu nilai yang sangat kuat dalam proses membatik adalah kesabaran. Membuat motif batik tidak dapat dilakukan dengan terburu-buru. Kesalahan kecil dalam proses membatik dapat mempengaruhi hasil akhir. Karena itu, seorang pembatik harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan ketelitian.
Nilai kesabaran tersebut penting ditanamkan kepada peserta didik. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa juga menghadapi berbagai proses yang membutuhkan kesabaran. Belajar, mengerjakan tugas, memahami pelajaran, mengikuti kegiatan sekolah, membangun persahabatan, dan mengembangkan kemampuan semuanya membutuhkan waktu.
Batik memberikan gambaran bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang baik pula. Jika generasi muda memahami filosofi tersebut, mereka akan belajar untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Mereka akan memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar.
Batik dan Kreativitas Generasi Muda
Melestarikan batik tidak berarti menjadikan batik sebagai sesuatu yang hanya boleh dipertahankan dalam bentuk lama. Sebaliknya, batik harus terus berkembang melalui kreativitas generasi muda.
Anak-anak dan remaja saat ini memiliki kemampuan kreatif yang sangat besar. Mereka hidup di tengah perkembangan teknologi, media sosial, desain digital, fotografi, video, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.
Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan batik dengan cara yang lebih menarik. Peserta didik dapat membuat desain motif batik digital, membuat poster Hari Batik Nasional, membuat video tentang proses membatik, mengenalkan motif batik daerah melalui media sosial, atau membuat produk kreatif yang mengangkat unsur batik.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan mengenakan batik. Pelestarian budaya dapat berkembang menjadi kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan penguatan identitas generasi muda.
Batik di Tengah Arus Globalisasi
Globalisasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Berbagai budaya dari negara lain dapat dengan mudah masuk melalui internet dan media sosial. Kondisi tersebut tidak harus dipandang sebagai ancaman, tetapi perlu dihadapi dengan kemampuan memilih, memahami, dan menghargai budaya sendiri.
Generasi muda boleh mengenal budaya dari berbagai negara. Mereka boleh mengikuti perkembangan mode dan teknologi global. Namun, pada saat yang sama, mereka perlu memiliki akar budaya yang kuat.
Mengenakan batik bukan berarti menolak modernitas. Justru batik dapat hadir dalam berbagai bentuk modern. Motif tradisional dapat dikembangkan menjadi pakaian yang sesuai dengan perkembangan zaman. Batik dapat digunakan dalam desain tas, sepatu, aksesori, interior, produk kreatif, hingga berbagai karya digital.
Inilah tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda: bagaimana menjaga nilai tradisional sambil menciptakan inovasi baru.
Batik Mengajarkan Tentang Keberagaman
Indonesia memiliki kekayaan batik yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki karakter dan kekhasan tersendiri. Perbedaan motif tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman budaya.
Keberagaman batik memberikan pelajaran bahwa perbedaan tidak selalu harus dipertentangkan. Perbedaan dapat menjadi kekayaan apabila dikelola dengan sikap saling menghargai.
Nilai tersebut sangat penting dalam kehidupan sekolah. Peserta didik berasal dari keluarga, lingkungan, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. Sekolah menjadi tempat untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman.
Batik dapat menjadi simbol bahwa sesuatu yang berbeda tetap dapat menjadi bagian dari satu identitas besar: Indonesia.
Guru dan Tanggung Jawab Melestarikan Budaya
Guru memiliki posisi penting dalam proses pelestarian budaya. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik.
Ketika guru menggunakan batik dengan bangga, mengenalkan sejarah batik, mengajak siswa membuat karya batik, dan memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitasnya, sesungguhnya guru sedang melakukan pendidikan budaya.
Pendidikan budaya tidak harus selalu dilakukan melalui ceramah panjang. Terkadang, tindakan sederhana justru lebih bermakna. Mengenakan batik, mengapresiasi karya perajin, mengunjungi sentra batik, membuat pameran karya siswa, atau mengintegrasikan batik dalam pembelajaran dapat menjadi pengalaman pendidikan yang berkesan.
Dari pengalaman tersebut, siswa tidak hanya mengetahui apa itu batik, tetapi juga memahami mengapa batik perlu dilestarikan.
Melestarikan Batik adalah Tanggung Jawab Bersama
Pelestarian batik tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau para perajin. Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya.
Orang tua dapat mengenalkan batik kepada anak-anak sejak dini. Guru dapat mengintegrasikan budaya dalam pembelajaran. Sekolah dapat membuat kegiatan budaya. Pemerintah dapat memberikan ruang bagi pelaku budaya dan perajin. Sementara generasi muda dapat menjadi pengguna sekaligus pencipta inovasi baru berbasis batik.
Dengan kolaborasi tersebut, batik tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan.
Pelestarian budaya membutuhkan tindakan nyata. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia. Kita juga harus menunjukkan penghargaan melalui tindakan.
Memakai batik adalah salah satu bentuk penghargaan. Mempelajari batik adalah bentuk lain. Mengajarkan batik kepada anak-anak adalah bentuk pelestarian. Mengembangkan motif batik melalui kreativitas adalah bentuk inovasi. Membeli dan menghargai karya perajin juga merupakan bentuk dukungan terhadap keberlanjutan budaya.
Membangun Karakter Melalui Budaya
Pada akhirnya, tujuan pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang memiliki pengetahuan luas, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat.
Batik dapat menjadi salah satu media untuk membangun karakter tersebut. Dari batik kita belajar kesabaran. Dari proses pembuatannya kita belajar ketelitian. Dari keberagaman motif kita belajar menghargai perbedaan. Dari kerja para perajin kita belajar tentang kerja keras. Dari proses kreatifnya kita belajar inovasi. Dari keberadaannya sebagai warisan budaya kita belajar mencintai bangsa sendiri.
Karakter tidak hanya dibentuk melalui buku pelajaran. Karakter juga tumbuh melalui pengalaman, budaya, keteladanan, dan lingkungan pendidikan.
Karena itu, melestarikan batik sesungguhnya bukan hanya menjaga kain dan motif. Kita sedang menjaga nilai, sejarah, kreativitas, dan identitas bangsa.
Hari Batik Nasional hendaknya menjadi pengingat bahwa budaya akan tetap hidup apabila generasi penerus bersedia mengenal, mencintai, menggunakan, mengembangkan, dan mewariskannya.
Batik adalah karya yang lahir dari tangan manusia, tetapi di dalamnya terdapat nilai yang dapat menyentuh kehidupan manusia. Batik mengajarkan bahwa keindahan membutuhkan proses, keberhasilan membutuhkan ketekunan, dan keberagaman dapat menjadi kekuatan.
Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya menjadi penonton perkembangan budaya, tetapi juga menjadi pelaku yang ikut menjaga dan mengembangkannya.
Mari kita lestarikan batik.
Mari kita kenalkan batik kepada anak-anak kita.
Mari kita jadikan batik sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Karena ketika kita menjaga batik, sesungguhnya kita sedang menjaga salah satu identitas bangsa. Dan ketika kita menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kepada generasi muda, kita sedang mempersiapkan generasi yang memiliki karakter, kreativitas, kecintaan terhadap budaya, serta rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia.
Selamat Hari Batik Nasional, 2 Oktober.
Lestarikan Batik, Batik Warisan Budaya, Bangun Karakter Bangsa.
Batik tidak hanya untuk dikenakan, tetapi untuk dikenang, dipelajari, dilestarikan, dikembangkan, dan diwariskan. (**)
]]>Tiga siswa MAS Darusy Syafiiyah berhasil meraih prestasi pada bidang akademik, yakni Juara I mata pelajaran Biologi, Juara II mata pelajaran Ekonomi, dan Juara II mata pelajaran Geografi. Capaian ini menjadi bukti nyata atas semangat belajar, ketekunan, serta kesungguhan siswa dalam mengembangkan kompetensi dan potensi akademik di lingkungan madrasah.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, dedikasi para guru dalam mendampingi peserta didik, serta dukungan madrasah dalam membangun budaya akademik yang kompetitif dan berorientasi pada prestasi.
Raihan juara pada tiga bidang ilmu yang berbeda menunjukkan bahwa siswa MAS Darusy Syafiiyah memiliki potensi untuk berkembang dalam beragam disiplin keilmuan. Prestasi ini sekaligus memperkuat peran madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia, tetapi juga mendorong penguasaan ilmu pengetahuan, daya pikir kritis, serta kemampuan berkompetisi secara sehat.
Kepala MAS Darusy Syafiiyah, Sugeng Riyadi, S.Sos., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pencapaian para siswa tersebut. Ia menegaskan bahwa prestasi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh warga madrasah, mulai dari siswa, guru pembimbing, hingga dukungan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. “Kami sangat bersyukur dan bangga atas capaian anak-anak dalam ajang OMI Tingkat Kabupaten Batang Hari Tahun 2026. Prestasi ini bukan sekadar tentang memperoleh juara, melainkan juga tentang proses belajar, kedisiplinan, kerja keras, dan keberanian untuk menunjukkan kemampuan terbaik. Semoga keberhasilan ini menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus belajar, berprestasi, serta membawa nama baik madrasah ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Pencapaian tiga gelar juara ini diharapkan menjadi momentum bagi MAS Darusy Syafiiyah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat pembinaan olimpiade, serta mengoptimalkan potensi peserta didik secara berkelanjutan.
Madrasah aliyah Swasta Darusy Syafiiyah berkomitmen untuk menjadikan prestasi sebagai bagian dari budaya pendidikan yang bertumpu pada keunggulan akademik, karakter Islami, dan semangat berkemajuan. Keberhasilan ini juga diharapkan dapat menginspirasi seluruh peserta didik agar tidak berhenti berusaha, terus mengembangkan kemampuan, dan berani meraih cita-cita.
Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang konsisten, MAS Darusy Syafiiyah optimis dapat terus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, berdaya saing, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama. (**)
]]>