Kesaktian Pancasila Dari Ruang Kelas Yang Jauh Dari Pusat Kota Peringati Hari Kesaktian Pancasila 2026, Pimred LintasJambi.co.id Delvi Adrie Tegaskan Pancasila Benteng Persatuan Bangsa Lanjutan Upaya Pelestarian, Wabup Batang Hari Audiensi Ke Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jambi Bahas Cagar Budaya Benteng Tembesi Matangkan Persiapan, Panpel Liga Pers Provinsi Jambi 2026 Di Batang Hari Gelar Rapat Pemantapan Akhir  Dan Bahas Techincal Meeting Mula. P. Rambe Genap 57 Tahun, Segenap Pimpinan Media Online “Lintasjambi.co.id” Ucapkan Selamat HUT Sekda Batang Hari

Home / Nasional / Opini / Pendidikan / Peristiwa

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Kesaktian Pancasila Dari Ruang Kelas Yang Jauh Dari Pusat Kota

Oleh: Hadiyanto Zulbasri. SP,, Gr,, M.Pd. (Guru Prakarya SMPN Satap Johor Baru, Desa Bungku)

Lintasjambi.co.id.Batang  Hari.- Ada kalanya saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya memilih menjadi guru dan mengapa harus mengabdi di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota?

Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Sebab menjadi guru di daerah bukan hanya tentang datang ke sekolah, mengajar, memberi tugas, lalu pulang. Ada perjalanan yang harus ditempuh, ada keterbatasan yang harus diterima, ada karakter anak-anak yang harus dipahami, dan ada harapan besar yang dititipkan oleh orang tua kepada kami.

Saya mengajar di salah satu SMP Negeri Satu Atap (Satap) Johor Baru di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari. Terhitung April 2024 sampai sekarang, dengan sang Kepala Sekolah Wanita Tangguh Ibu Elin Afriani. S.Pd.

Sang penulis, juga sekaligus guru Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, melaksanakan tugas yang jauh dari tempat tinggal (rumah) dengan jarak sekitar 40 KM dan ditempuh dengan waktu perjalanan lebih kurang 2 Jam dari rumah, dengan jalan yang cukup ekstrim, disaat hujan bermain kan lumpur dan disaat panas bermandikan debu, di tempat inilah saya mengabdi dan semakin memahami bahwa pendidikan dan Pancasila bukanlah dua hal yang terpisahkan. Justru di ruang kelas sederhana, jauh dari pusat kota, saya melihat bagaimana nilai-nilai Pancasila tumbuh dan diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Arti Kesaktian Pancasila bagi Saya…..?

Setiap tanggal 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Bagi saya, peringatan tersebut bukan sekadar upacara yang dilakukan setiap tahun. Bukan pula hanya tentang menghafal lima sila atau mengetahui sejarah bangsa.

Bagi saya, Kesaktian Pancasila adalah tentang tetap hidupnya nilai-nilai Pancasila dalam diri kita, meskipun zaman berubah dan tantangan semakin besar.

Saya melihat kesaktian itu dari wajah anak-anak yang datang ke sekolah dengan berbagai cerita. Ada yang datang dengan semangat, ada yang masih harus berjuang melawan rasa malas, ada yang memiliki keterbatasan, dan ada yang datang dengan pakaian lusuh, ada yang datang dengan Sepatu yang kotor oleh lumpur, ada pula yang menyimpan cita-cita besar meskipun kondisi lingkungan mereka sederhana.

Ketika mereka duduk bersama dalam satu kelas, belajar tanpa membedakan latar belakang, saling membantu, dan tertawa bersama, saya melihat wajah Pancasila di sana.

Pancasila ternyata tidak selalu hadir dalam pidato besar. Kadang-kadang ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana.

Ketika seorang siswa membantu temannya yang kesulitan memahami pelajaran, di sana ada kemanusiaan.

Ketika mereka membersihkan kelas bersama-sama, di sana ada gotong royong.

Ketika mereka menerima perbedaan pendapat dalam diskusi, di sana ada demokrasi.

Dan ketika mereka tetap berdiri bersama sebagai satu kelompok meskipun memiliki perbedaan, di sana ada persatuan.

Siapa yang Harus Menjaga Pancasila…..?

Sering kali kita berbicara tentang siapa yang harus menjaga Pancasila. Jawabannya tentu kita semua.

BACA JUGA  Lakalantas Penghujung Tahun 2025, Kakek Parjono Tewas Terlindas Truk Tronton

Namun, sebagai guru, saya merasa memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Sebab di tangan gurulah anak-anak tidak hanya belajar membaca, menulis, berhitung, atau memahami ilmu pengetahuan. Mereka juga belajar tentang bagaimana menjadi manusia.

Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga sedang menanamkan nilai.

Mungkin apa yang kami katakan hari ini tidak langsung terlihat hasilnya. Tetapi saya percaya, sebuah nasihat kecil yang disampaikan di ruang kelas bisa saja diingat oleh seorang anak hingga ia dewasa.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa ketika seorang guru mengajarkan kejujuran, keadilan, toleransi, tanggung jawab, dan gotong royong, sesungguhnya ia sedang ikut menjaga Pancasila.

Kami mungkin jauh dari pusat kota. Nama sekolah kami mungkin tidak selalu terdengar. Ruang kelas kami mungkin tidak semegah sekolah-sekolah di perkotaan. Tetapi anak-anak yang belajar di dalamnya adalah bagian dari Indonesia. Mereka memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan memiliki masa depan.

Kapan Pancasila Harus Diamalkan…..?

Jawabannya: setiap hari.

Pancasila tidak boleh hanya ramai dibicarakan ketika tanggal 1 Oktober tiba.

Ia harus hadir ketika guru memasuki kelas. Ia harus hadir ketika siswa bertengkar dan kemudian diajak berdamai. Ia harus hadir ketika ada teman yang membutuhkan pertolongan. Ia harus hadir ketika keputusan kelas harus diambil melalui musyawarah.

Bahkan ketika seorang guru memilih untuk tetap sabar menghadapi siswa yang sulit diarahkan, menurut saya, di situlah nilai kemanusiaan sedang bekerja.

Menjadi guru memang membutuhkan kesabaran. Kadang kita sudah menjelaskan berkali-kali, tetapi belum semua siswa memahami. Kadang kita memberikan motivasi, tetapi perubahan tidak langsung terlihat.

Namun, seorang guru tidak boleh mudah menyerah.

Sebab mungkin anak yang hari ini kita anggap belum mampu justru suatu hari menjadi seseorang yang membanggakan orang tuanya, masyarakatnya, dan bangsanya.

Di Mana Kesaktian Pancasila Itu Terlihat….?

Bagi saya, kesaktian Pancasila tidak hanya terlihat di pusat pemerintahan atau di tempat-tempat yang menjadi sorotan.

Kesaktian Pancasila juga terlihat di desa.

Ia terlihat di jalan yang dilalui guru menuju sekolah.

Ia terlihat di halaman sekolah ketika siswa bergotong royong.

Ia terlihat di ruang kelas ketika anak-anak belajar bersama.

Ia terlihat ketika seorang guru tetap datang mengajar meskipun berbagai keterbatasan harus dihadapi.

Di sinilah saya belajar bahwa jarak geografis tidak boleh menjadi jarak dalam mendapatkan pendidikan dan rasa kebangsaan.

Sekolah yang jauh dari pusat kota bukan berarti jauh dari Jiwa Panacasila.

Justru di tempat seperti inilah semangat dan jiwa pancasila terus dirawat.

Mengapa Saya Tetap Bertahan….?

Ada banyak alasan untuk mengeluh ketika bekerja jauh dari pusat kota. Tetapi setiap kali melihat siswa datang ke sekolah dengan wajah penuh harapan, keluhan itu perlahan menjadi kecil.

BACA JUGA  Perkuat Sinergi Pembangunan, Pemkab Batang Hari Dan Pemkab Sarolangun Tandatangani Perjanjian Kerjasama

Saya sering membayangkan masa depan mereka.

Anak-anak yang sekarang duduk di bangku SMP suatu saat akan tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka akan mengambil keputusan sendiri, membangun keluarga, bekerja, bermasyarakat, dan menentukan arah kehidupannya.

Apa yang mereka pelajari hari ini mungkin akan menjadi bekal bagi mereka di masa depan.

Karena itu, bagi saya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ada amanah di dalamnya.

Saya mungkin tidak dapat mengubah Indonesia dalam satu hari. Saya juga tidak dapat menyelesaikan semua persoalan pendidikan seorang diri. Tetapi saya masih bisa melakukan sesuatu yang sederhana: mengajar dengan sungguh-sungguh, memberi teladan, dan menanamkan nilai-nilai baik kepada anak-anak yang dipercayakan kepada saya.

Bagaimana Pancasila Kita Hidupkan…..?

Tidak perlu selalu dengan sesuatu yang besar. Mulailah dari sekolah.

Ajarkan anak-anak untuk menghormati orang lain. Biasakan mereka bekerja sama. Berikan kesempatan untuk bermusyawarah. Ajarkan mereka menerima perbedaan. Tanamkan kejujuran. Dorong mereka untuk peduli kepada lingkungan dan sesama.

Dan yang paling penting, guru harus memberikan contoh.

Sebab anak-anak mungkin lupa apa yang pernah kita tuliskan di papan tulis. Mereka mungkin lupa sebagian materi pelajaran yang kita sampaikan. Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana seorang guru memperlakukan mereka.

Bagi saya, itulah salah satu cara paling sederhana untuk menghidupkan Pancasila.

Pancasila dari Sebuah Ruang Kelas..?

Pada akhirnya, Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang sejarah, tetapi bagaimana kita menjaga masa depan.

Saya berdiri di sebuah sekolah yang jauh dari pusat kota. Dari ruang kelas ini, saya melihat Indonesia dalam bentuk yang sangat sederhana: anak-anak dengan cita-cita, guru dengan pengabdian, dan masyarakat dengan harapan.

Mungkin kami tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan. Tetapi kami memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: semangat untuk terus belajar dan mengabdi.

Saya percaya, Indonesia tidak hanya dibangun dari gedung-gedung tinggi dan pusat-pusat kota. Indonesia juga dibangun dari sekolah-sekolah kecil di desa, dari guru-guru yang terus mengajar, dan dari anak-anak yang setiap pagi datang membawa harapan.

Maka ketika tanggal 1 Oktober tiba, saya tidak hanya ingin mengucapkan bahwa Pancasila itu sakti.

Saya ingin melihat kesaktiannya hidup di dalam perilaku kita.

Saya ingin melihatnya tumbuh dalam diri anak-anak didik saya.

Dan saya ingin percaya bahwa setiap kali seorang guru berdiri di depan kelas untuk mengajarkan ilmu sekaligus nilai kehidupan, sesungguhnya ada sebuah perjuangan kecil untuk Indonesia yang sedang berlangsung.

Dari ruang kelas yang jauh dari pusat kota, kami belajar bahwa jarak bukan alasan untuk berhenti mencintai Indonesia. Dari sekolah yang sederhana, kami menanamkan nilai-nilai Pancasila. Dan dari anak-anak desa inilah, kami berharap masa depan Indonesia akan terus tumbuh.

Sebab Pancasila akan tetap sakti bukan karena hanya kita hafalkan, tetapi karena kita hidupkan.

Share :

Baca Juga

Kota Jambi

Untuk Meningkatkan Sinergi Dan Soliditas, Kalapas Kelas IIB Muara Bulian Mengikuti Kegiatan Retreat Pada Kanwil Dirjenpas Jambi 

Nasional

Wabup H. Bakhtiar Bersama Istri Hadiri Acara Puncak Harganas Ke-31 Tahun 2024

Batanghari

Peringati Hari Jadi Damkarmat Ke-107, Satpol PP Ke-76 Dan Satlimas Ke-64 Tahun 2026, Bupati MFA Bertindak Selaku Inspektur Upacara

Batanghari

Dihadiri Ribuan Guru Dan Siswa, Pj Sekda Mula P Rambe Menghadiri Puncak Festival Literasi Ke-3 Kabupaten Batang Hari

Batanghari

Mewakili Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Ridwan Noor. ME Membuka Rakor Paud Bersama Bunda Paud Se-Kabupaten Batanghari

Batanghari

Forkopimda Batanghari Deklarasikan Komitmen Bersama Tolak Geng Motor

Batanghari

Bupati MFA Serahkan Secara Simbolis Sertifikat Tanah Warga Sungai Baung 

Batanghari

Semarakkan Kegiatan Bulan Suci Romadhan 1446 H, Bupati MFA Buka Kegiatan  Lomba Antar OPD